Selasa, 16 Juni 2026
METAMORFOSE AKSARA OṂ PADA WEDA ŚRUTI MENJADI AKSARA OṂ PADA HINDU DRESTA NUSANTARA
Abstrak
Aksara Oṃ (Praṇava) merupakan simbol suci yang memiliki kedudukan fundamental dalam ajaran Hindu sebagai representasi verbal dan visual dari Brahman, Realitas Tertinggi yang menjadi sumber, penyangga, dan tujuan akhir seluruh ciptaan. Dalam Weda Śruti, khususnya Chāndogya Upaniṣad, Māṇḍūkya Upaniṣad, Praśna Upaniṣad, dan berbagai mantra Veda, Oṃ dipahami sebagai śabda-brahman, yaitu vibrasi primordial yang melandasi manifestasi alam semesta sekaligus sarana kontemplasi menuju kesadaran tertinggi. Seiring dengan penyebaran agama Hindu dari India ke Nusantara, simbol Oṃ mengalami proses transmisi, adaptasi, dan inkulturasi budaya yang melahirkan berbagai bentuk representasi grafis sesuai perkembangan sistem aksara lokal, termasuk aksara Bali yang hingga kini menjadi bagian integral dalam kehidupan religius masyarakat Hindu Bali.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metamorfose aksara Oṃ dari perspektif Weda Śruti menuju bentuk aksara Oṃ dalam tradisi Hindu Dresta Bali, serta menganalisis kesinambungan dan transformasi makna teologis, filosofis, semiotik, dan kultural yang menyertainya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research), didukung analisis teologi Hindu, filologi aksara, sejarah agama, dan semiotika religius terhadap sumber-sumber primer berupa Weda Śruti, Upaniṣad, serta berbagai naskah Hindu Nusantara, dan sumber sekunder berupa kajian akademik mengenai aksara, simbol, dan perkembangan Hindu di Asia Tenggara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metamorfose aksara Oṃ dari tradisi India menuju tradisi Bali berlangsung melalui proses evolusi grafis yang dipengaruhi oleh perkembangan aksara Brahmi, Gupta, Pallawa, Kawi, hingga Aksara Bali. Perubahan tersebut terutama terjadi pada aspek visual, kaligrafis, dan estetika budaya tanpa mengubah substansi teologisnya. Baik dalam Weda Śruti maupun dalam tradisi Hindu Bali, Oṃ tetap dipahami sebagai simbol Brahman, sumber vibrasi kosmis, inti mantra, serta sarana penghubung antara Ātman dan Paramātman. Transformasi bentuk aksara Oṃ pada tradisi Bali mencerminkan terjadinya lokalisasi simbolik (symbolic localization) dan inkulturasi religius yang memungkinkan ajaran universal Weda diterima, dipelihara, dan diwariskan dalam konteks budaya Nusantara tanpa kehilangan esensi filosofisnya.
Secara teoritis, penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara teks suci, simbol keagamaan, dan dinamika budaya dalam perkembangan Hindu dari masa Weda hingga tradisi Hindu Nusantara. Penelitian ini juga menawarkan perspektif baru bahwa perubahan bentuk simbol keagamaan tidak selalu menunjukkan perubahan doktrin, melainkan dapat menjadi bentuk adaptasi kultural yang memperkaya ekspresi religius suatu masyarakat. Secara aplikatif, hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi dalam pendidikan agama Hindu, pengembangan kajian filologi dan epigrafi Hindu Nusantara, pelestarian aksara Bali sebagai warisan budaya spiritual, serta penguatan pemahaman Bhakta terhadap makna filosofis dan teologis aksara Oṃ dalam praktik keagamaan kontemporer.
Kata Kunci: Oṃ, Praṇava, Śabda-Brahman, Weda Śruti, Upaniṣad, Aksara Bali, Teologi Hindu, Filologi, Semiotika Religius, Hindu Nusantara.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar