Selasa, 16 Juni 2026

"Galungan sebagai Puncak Transformasi Spiritual: Kajian Rangkaian Rerainan Berdasarkan Lontar dan Weda Śruti"

ABSTRAK Hari Raya Galungan merupakan salah satu rerainan utama dalam tradisi Hindu Nusantara yang dimaknai sebagai simbol kemenangan Dharma atas Adharma. Namun demikian, Galungan tidak dapat dipahami hanya sebagai perayaan ritual keagamaan yang berlangsung setiap 210 hari berdasarkan sistem Pawukon, melainkan sebagai puncak dari suatu proses pendidikan spiritual yang terstruktur dan berkesinambungan. Rangkaian rerainan yang mendahului Galungan, yaitu Sugihan Tenten, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan, mengandung ajaran filosofis yang mengarahkan manusia pada penyucian diri, pengendalian indria, penguatan kesadaran spiritual, serta penegakan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji makna filosofis dan spiritual rangkaian rerainan menuju Galungan berdasarkan sumber-sumber lontar Hindu Nusantara, khususnya Lontar Sundarigama, serta menghubungkannya dengan ajaran Śruti yang bersumber dari Ṛgveda, Yajurveda, Atharvaveda, dan Upaniṣad. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif, melalui analisis teks-teks Śruti dan lontar yang relevan dengan konsep penyucian, Dharma, Yajña, pengendalian diri, serta kemenangan spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa setiap rerainan memiliki fungsi pedagogis dan transformasional yang saling berkaitan. Sugihan Tenten merepresentasikan pembentukan niat suci (sankalpa) dan kesadaran spiritual; Sugihan Jawa melambangkan harmonisasi hubungan sosial; Sugihan Bali menekankan penyucian pikiran, ucapan, dan perbuatan; Penyekeban mengajarkan pengendalian hawa nafsu dan pematangan batin; Penyajaan merefleksikan semangat Yajña dan persembahan hasil karma kepada Brahman; sedangkan Penampahan melambangkan penaklukan Sad Ripu sebagai musuh utama dalam diri manusia. Keseluruhan tahapan tersebut bermuara pada Galungan sebagai simbol kemenangan kebenaran (satya), kebijaksanaan (jñāna), dan Dharma atas berbagai bentuk Adharma. Secara teoritis, kajian ini menunjukkan bahwa konsep Galungan memiliki kesesuaian dengan ajaran Śruti mengenai penyucian diri, pengendalian indria, pelepasan keterikatan, dan kemenangan kebenaran sebagaimana diajarkan dalam Ṛgveda, Yajurveda, Kaṭha Upaniṣad, dan Muṇḍaka Upaniṣad. Secara aplikatif, nilai-nilai yang terkandung dalam rangkaian rerainan Galungan dapat diimplementasikan dalam kehidupan modern melalui penguatan integritas moral, pengendalian emosi, peningkatan kepedulian sosial, pembiasaan hidup dalam semangat Yajña, serta penegakan Dharma dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan. Dengan demikian, Galungan tidak hanya menjadi momentum ritual keagamaan, tetapi juga sarana refleksi dan transformasi spiritual yang relevan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Kata Kunci: Galungan, Dharma, Adharma, Śruti, Lontar Sundarigama, Yajña, Pengendalian Diri, Transformasi Spiritual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar