Minggu, 31 Januari 2016

Upakara, manakah sesuai untuk kita?

Jumpa kembali bersama Bedah Spiritual Hindu
Om Swasty Astu.
Kali ini saya akan mengajak umat Hindu terutama yang hobi buka-buka buku dan membaca, karena pada hakekatnya Buku adalah Gudangnya Ilmu dan Membaca adalah Kuncinya. Maka dari itu saya mengajak mari sedikit demi sedikit kita membedah Dunia Spiritual Hindu supaya pada pelaksanaannya dapat menjadi dan terjadi keseimbangan antara hubungan Vertikal dg Horizontal, antara sesama mahluk hidup, antara sesama kaum dan antara Pemasukan dan Pengeluaran.
Baik....
Saya akan menuliskan Mengenai " TINGKATAN DALAM MELAKSANAKAN UPAKARA "
Tapi..., sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kekeliruan dan saya mohon masukan demi kebaikan penulisan ini dan untuk dunia Spiritual Hindu.

Realitas kehidupan Umat Hindu, dalam berbhakti/ melakukan Upakara yang saya lihat, Jor-joran. Upakaranya besar-besaran (mewah) walau sampai ngutang. Biar tekor asal tersohor kah atau memang full confiden ( percaya diri penuh) bahwa upakara ini sangat baik untuk si empunya upakara.

Dalam Buku yang ditulis oleh Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Shandi, Upakara /banten dapat dibagi menjadi sembilan tingkatan yang menjadi pilihan alternatif sesuai kemampuan. Dan pada umumnya sering kita kenal dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu:
I. Tingkatan Upakara kecil/Nista.
II. Tingkatan Upakara Madya
III. Tingkatan Upakara Utama
Nah, masing-masing tingkatan tersebut di atas dapat dibagi lagi menjadi 3 tingkatan lagi, yaitu:
Upakara Kecil/Nista:
1. Nista ning Nista, merupakan tingkatan Upakara yang paling kecil, misalnya di sanggar pesaksi (sanggar surya) hanya memakai Banten: peras dan daksina atau yg lebih kecil.

2. Madya ning Nista, merupakan tingkatan upakara kecil namun sedang. Midalnya di sanggar Pesaksi (Sanggar Surya) memakai Banten Suci.

3. Utamaning Nista, merupakan tingkatan Upakara besar di dalam Kategori Tingkatan Kecil pada romawi satu. Misalnya di Sanggar Pesaksi (sanggar surya) memakai banten Dewa Dewi.

Itulah tingkatan pada Romawi I (satu) yaitu Upakara/ Banten dengan tingkatan Kecil / Nista.

Pada Romawi II (dua) tingkatan Upakara Madya ( Sedang)yang dapat kita bagi lagi menjadi 3 tingkatan, diantaranya:
1. Nista ning Madya
2. Madya ning Madya
3. Utama ning Madya

Kemudian pada Romawi III (tiga) dapat dibagi 3 tingkatan pula.
1. Nista ning Utama
2. Madya ning Utama dan
3. Utama ning Utama.

Jadi dengan demikian, adanya tingkatan dalam upakara adalah semata-mata untuk menunjukkan jumlah material/upakara ( bahan /sarana /media yang digunakan) di dalam suatu Upacara. Bukan berarti menunjukkan Upakaranya baik atau jelek.
Untuk itu, mari bijaksanalah dalam melakukan Upacara.
Jangan sampai terjadi Besar Pasak daripada tiang.
Besar Pengeluaran daripada Pemasukan.
Semoga bermanfaat.
OM SHANTI SHANTI SHANTI OM.